Bimbingan Teknis Penyusunan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (FSVA) Provinsi NTB Tahun 2025
Mataram, 7 Oktober 2025 – Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Barat menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyusunan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (Food Security and Vulnerability Atlas/FSVA) bagi aparat dan pelaksana teknis kabupaten/kota se-Provinsi NTB, bertempat di Hotel Idoop Mataram.
Bimbingan teknis ini diikuti oleh perwakilan dari 7 kabupaten/kota di Provinsi NTB, yang terdiri atas unsur Bidang Ketersediaan dan Kerawanan Pangan, Sub-Koordinator Statistik dan Informasi Ketahanan Pangan, serta operator teknis pengolahan data dan peta digital.
Dalam arahannya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi NTB, Dr. H. Aidy Furqon, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa penyusunan FSVA merupakan instrumen penting dalam mendukung pengambilan kebijakan berbasis data (evidence-based policy) untuk mengidentifikasi wilayah rentan pangan dan menetapkan prioritas intervensi program.
“Melalui FSVA, kita dapat memetakan tingkat ketahanan pangan hingga level desa. Ini menjadi dasar penting dalam upaya penanganan kerentanan pangan dan perumusan strategi intervensi yang lebih tepat sasaran,” ujarnya.
Selama kegiatan berlangsung, peserta memperoleh pendampingan teknis dari narasumber yang berkompeten di bidang analisis spasial, pengolahan data indikator ketahanan pangan, serta metodologi penyusunan peta tematik berbasis GIS (Geographic Information System).
Dengan berakhirnya rangkaian kegiatan ini, diharapkan masing-masing kabupaten/kota dapat segera menyelesaikan penyusunan buku FSVA versi terbaru dan melaporkannya secara berjenjang ke tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan Bapanas, sesuai dengan ketentuan dan jadwal yang telah ditetapkan.
Keluaran (output) dari kegiatan ini tidak hanya berupa peta dan dokumen analisis FSVA, tetapi juga tersusunnya basis data spasial ketahanan pangan daerah yang terintegrasi dengan Sistem Data Pangan Nasional (SDPN). Dengan demikian, hasil FSVA NTB Tahun 2025 diharapkan mampu menjadi referensi strategis dalam perumusan kebijakan ketahanan pangan yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.