Mataram, 16 Mei 2024 Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) telah menggelar "Rapat Koordinasi dan Sosialisasi Gerakan Selamatkan Pangan" yang bertempat di Aula Dinas Ketahanan Pangan Provinsi NTB. Acara ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan NTB, H.A. Azis, SH, MH, dan dihadiri oleh berbagai organisasi perangkat daerah Provinsi NTB, seperti Dinas Pertanian, BPOM, Diskominfotik, Dinas Perhubungan, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta Dinas Kesehatan. Selain itu, turut hadir Baznas, Civitas Akademika Universitas Mataram (Unram), Bank Pangan/Penggiat Pangan NTB, Media Lombok Post, dan para undangan lainnya. Acara ini diawali dengan pembukaan oleh Kepala Dinas Ketahanan Pangan NTB, dilanjutkan dengan sosialisasi Gerakan Selamatkan Pangan oleh Kabid Ketersediaan dan Kerawanan Pangan, H. Tunggul Wiyatno, SHut, MP. Gerakan Selamatkan Pangan ini dilatarbelakangi oleh ancaman krisis pangan serta masalah kerawanan pangan dan gizi yang masih menjadi tantangan global. Menurut FAO, hingga akhir tahun 2023 sekitar 970.000 jiwa di seluruh dunia beresiko kelaparan, sementara 3,1 miliar orang tidak mampu membeli makanan yang sehat dan layak. Di Indonesia, terdapat 74 kabupaten/kota yang rentan terhadap kerawanan pangan (FSVA, 2022), dengan 21,6% balita mengalami stunting (SSGI, 2022), serta 28,1 juta jiwa (10,21%) penduduk mengkonsumsi energi (kalori) kurang dari standar minimum untuk hidup sehat, aktif, dan produktif (data PoU BPS, 2022). Gerakan Selamatkan Pangan bertujuan untuk menurunkan tingkat kerawanan pangan dan gizi melalui berbagai upaya, termasuk pencegahan food waste, yakni makanan yang telah melalui rantai pasok namun tidak dikonsumsi, sehingga akhirnya dibuang. Penanganan food waste memerlukan kolaborasi berkelanjutan antara para pemangku kepentingan untuk meminimalisir pemborosan pangan. Gerakan ini juga sejalan dengan program SDGs poin 2 (zero hunger) dan poin 12 (responsible consumption and production). Di Provinsi NTB sendiri, terdapat 4 kecamatan yang rentan terhadap kerawanan pangan (FSVA, 2023) atau sekitar 3,41%, dengan 24,6% balita mengalami stunting (SKI, 2023), serta 122.640 jiwa (2,24%) penduduk mengkonsumsi energi (kalori) di bawah standar minimum (PoU, 2023). Pada tahun 2022, Badan Pangan Nasional telah menginisiasi Gerakan Selamatkan Pangan dengan melibatkan berbagai pihak melalui dua pendekatan utama: Mencegah pemborosan pangan melalui penetapan kebijakan dan upaya sosialisasi/promosi serta advokasi. Fasilitasi aksi penyelamatan pangan berlebih untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan. Menurut kajian Bappenas, Food Loss and Waste (FLW) di Indonesia pada tahun 2000-2019 berkisar antara 23-48 juta ton per tahun, setara dengan 115-184 kilogram per kapita per tahun. Sebagai wujud komitmen dan kehadiran pemerintah dalam upaya pencegahan food waste, pada tahun 2024 Dinas Ketahanan Pangan Provinsi NTB melalui Badan Pangan Nasional menginisiasi "Gerakan Selamatkan Pangan dalam rangka Kewaspadaan Pangan dan Gizi" dengan melibatkan berbagai mitra kerja, termasuk asosiasi, pelaku usaha, dan bank pangan/penggiat. Inisiatif ini dimulai dengan kegiatan rapat koordinasi dan sosialisasi. Keberhasilan penanganan food waste melalui Gerakan Selamatkan Pangan memerlukan komitmen dan sinergi kebijakan serta program antara stakeholder, dalam mengintensifkan gerakan ini dan mendorong kolaborasi berkelanjutan antara seluruh pemangku kepentingan, baik dari sektor akademik, bisnis, komunitas, pemerintah, dan media (pentahelix ABCGM). Provinsi Nusa Tenggara Barat menjadi pelaksana kegiatan pada tahun 2024, yang saat ini berada dalam tahap inisiasi. Fokus kegiatan tahap ini adalah koordinasi/advokasi dan sosialisasi/promosi Gerakan Selamatkan Pangan untuk pencegahan dan pengurangan food loss and waste. Langkah-langkah tersebut mencakup: Memetakan peran para pihak serta potensi kolaborasi. Koordinasi dan advokasi dengan pemerintah daerah, asosiasi, swasta/pelaku usaha, bank pangan/penggiat, komunitas, media, dan masyarakat melalui pertemuan koordinasi untuk membahas rekomendasi kebijakan dan/atau aksi kolaborasi. Sosialisasi/promosi melalui penyusunan dan penyebarluasan bahan sosialisasi/promosi serta penggunaan berbagai media informasi untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran tentang pentingnya penyelamatan pangan. Dengan demikian, Gerakan Selamatkan Pangan diharapkan mampu mengurangi pemborosan pangan dan meningkatkan ketersediaan pangan bagi masyarakat yang membutuhkan, mendukung upaya pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).