Logo
images

DINAS KETAHANAN PANGAN MENGGELAR RAKOR BUNGATRI

Lumbung Pangan Terintegrasi (BUNGATRI) Alternatif Penurunan Kemiskinan di Nusa Tenggara Barat berada di Desa Sembalun Bumbung Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur. Mekanisme penanganan yang dilakukan secara terpadu, sinergi dan terintegrasi dengan melibatkan seluruh stake holders terkait antara lain Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kecamatan/Desa, BUMN/D, Swasta, Tokoh Agama (Toga), Tokoh Masyarakat (Toma), Tokoh Adat, Tokoh Pemuda dan masyarakat.

BUNGATRI bertujuan untuk memberdayakan dan memandirikan masyarakat untuk mampu memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya mulai dari pangan, kesehatan, ekonomi, pendapatan dan keahlian yang berkelanjutan. Selain itu BUNGATRI bermanfaat untuk menyediakan cadangan pangan masyarakat, menyediakan lapangan pekerjaan, meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, meningkatkan ekonomi masyarakat, meningkatkan kualitas konsumsi pangan masyarakat menjadi Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman serta mengembangkan destinasi wisata berbasis pangan. demikian yang disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan pada Rakor BUNGATRI yang dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 5 Juli 2018 bertempat diruang rapat Sekretaris Daerah Provinsi NTB.

Kadis Ketahanan Pangan Provinsi NTB juga menyatakan bahwa Kawasan BUNGATRI akan menjadi pusat kegiatan yang terintegrasi dari seluruh stake holders terkait dengan bentuk kegiatan sebagai berikut: 1) Sebagai tempat cadangan pangan masyarakat/anggota baik itu gabah, jagung, ketan, beras merah, beras hitam, sorgum, jewawut, dll; 2) sentra penyediaan sayur-mayur, buah, unggas, ternak dan ikan khususnya bagi anggota kelompok dan masyarakat di sekitar kawasan lumbung yang diperoleh langsung melalui kegiatan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Ketersedianya pangan dapat diakses dengan mudah dan aman dari cemaran bahan kimia dimaksudkan untuk dapat merubah perilaku pola konsumsi pangan masyarakat menjadi pola pangan yang Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA); 3) pasar hasil Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) rumah tangga/kelompok sehingga dapat memberikan tambahan pendapatan; 4) pusat pendidikan non formal dalam menimba ilmu pengetahuan seperti:  agama, seni, budaya, kewirausahaan dan peningkatan keterampilan; 5) pusat pelatihan bagi masyarakat untuk meningkatkan keterampilan pengolahan pangan, kesenian, kerajinan tangan seperti tenun, ketak, dll; 6) Taman bacaan bagi anak-anak, remaja dan dewasa dalam bentuk penyediaan buku-buku di perpustakaan mini; 7) Pusat kuliner khas lokal dan sebagai pusat cindera mata bagi pengunjung yang bahan-bahannya diambil anggota masyarakat miskin di sekitar desa yang telah mendapatkan pelatihan dan pendidikan keterampilan; 8) Tempat pelayanan dan informasi kesehatan berupa posyandu bagi balita, ibu hamil dan menyusui; serta 9) Lapangan kerja dari seluruh kegiatan baru seperti wirausaha kerajinan, pengolahan pangan, seni, budaya, serta pemasarannya.

Rakor dihadiri oleh Tim Efektif BUNGATRI yang terdiri dari OPD terkait, akademisi, konsultan dan tim teknis dari Dinas Ketahanan Pangan Provinsi  NTB. Pada kesempatan ini disampaikan  Detail Enginering Design BUNGATRI yang menempati areal 30 are meliputi penataan fisik lumbung, plaza, amphyteathre, mushala, outlet, spot-spot KRPL dan fasilitas pendukung bernuansa wisata berbasis pangan dan mengangkat budaya/kearifan lokal.

Prof Sarjan sebagai tim ahli menyarankan penekanan pada aspek pengawalan kegiatan pengelolaan kawasan setelah selesai pembangunan fisik agar tujuan dari penurunan kemiskinan bisa tercapai terutama integrasi program antar OPD yang masuk dalam kawasan BUNGATRI.

Perwakilan Dinas Kesehatan mengapresiasi inovasi BUNGATRI dalam rangka antisipasi stunting dengan adanya lumbung pintar sehingga ibu-ibu dapat memperoleh informasi terkait bagaimana mengolah makanan sederhana untuk keluarga.

Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah menyarankan agar menempatkan tempat baca di lokasi yang lebih terlihat dan menarik. Kemudian dari Dinas Koperasi menyampaikan akan mendukung kegiatan ini dan mendorong terbentuknya koperasi untuk kesejahteraan masyarakat di wilayah Sembalun serta mengaktifkan UKM yang ada disekitar.

Bappeda mengapresiasi inovasi BUNGATRI sebagai perwujudan penanganan kemiskinan dimulai dari desa yang sudah dimulai oleh Dinas Ketahanan Pangan. Hendaknya pembangunan BUNGATRI tidak berlangsung lama, maksimal 3 tahun.

Lumbung pangan terintegrasi diharapkan dapat memberi kontribusi nyata bagi Penurunan Kemiskinan di Provinsi NTB melalui pemberdayaan masyarakat miskin untuk mandiri sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidupnya mulai dari pangan dan ekonomi.


TAG

Dipost Oleh Humas Ketahanan Pangan NTB

Humas Dinas Ketahanan Pangan Provinsi NTB

Tinggalkan Komentar